https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/feedback+icon-02.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/ask+me+icon.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/logoHeader.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/human-logo.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/98bddd87-71bd-4455-8f91-ada0ad16341d.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/059a0438-5242-425f-973f-e69dc72bedaa.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/939de8bb-7316-4130-a658-a46ae512256c.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/b84417c7-b18e-457a-b0b4-e0f92ddcf5a5.JPG
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/44a44bb7-6086-48f3-a7af-6b0471892321.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/98bddd87-71bd-4455-8f91-ada0ad16341d.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/059a0438-5242-425f-973f-e69dc72bedaa.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/44a44bb7-6086-48f3-a7af-6b0471892321.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/98bddd87-71bd-4455-8f91-ada0ad16341d.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/059a0438-5242-425f-973f-e69dc72bedaa.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/939de8bb-7316-4130-a658-a46ae512256c.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/b84417c7-b18e-457a-b0b4-e0f92ddcf5a5.JPG
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/44a44bb7-6086-48f3-a7af-6b0471892321.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/98bddd87-71bd-4455-8f91-ada0ad16341d.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/059a0438-5242-425f-973f-e69dc72bedaa.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/939de8bb-7316-4130-a658-a46ae512256c.jpg

Tiongkok Harus Menemukan Solusi Daur Ulang Baterai EV Yang Lebih Efisien

31 October 2020

dilihat 109x

Mobilku.com - Kelompok pecinta lingkungan Greenpeace, pada hari Jumat lalu mengatakan bahwa Tiongkok perlu meningkatkan daur ulang dan penggunaan kembali baterai kendaraan listrik yang sudah mati guna meredakan ketegangan pasokan dan mengurai polusi pada saat proses produksi baterai.


Meskipun penggunaan kendaraan listrik merupakan salah satu upaya untuk menjaga lingkungan, produksi baterai yang secara terus-menerus dipercaya dapat merusak alam dikarenakan salah satu bahan utama yang digunakan lithium dan kobalt sudah semakin terbatas.


“Kita akan melihat bahwa ada gelombang baterai EV bekas yang amat besar segera menghantam Tiongkok. Lalu, Bagaimana tanggapan pemerintah (Xi Jinping) yang memiliki komitmen bebas emisi karbon di tahun 2060.” ujar Ada Kong, selaku Greenpeace East Asia Senior Programme Manager.


Greenpeace mengatakan bahwa akan ada 12,85 juta ton baterai lithium-ion EV yang akan mati di antara tahun 2021 hingga 2030, sementara itu akan ada lebih dari 10 juta ton lithium, kobalt, nikel, dan mangan yang akan ditambang secara terus-menerus untuk memproduksi baterai baru.


Seharusnya, baterai EV yang sudah mati bisa didaur ulang kembali sebagai sistem tenaga cadangan untuk stasiun 5G China atau digunakan kembali dalam sepeda elektrik. Jika cara tersebut dapat dilakukan, ini artinya daur ulang baterai EV diperkirakan dapat menghemat 63 juta ton emisi karbon yang berasal dari pembuatan baterai baru. Bahkan penggunaan baterai EV bekas yang sudah di daur ulang, diperkarakan akan mampu memenuhi kebutuhan penyimpanan energi secara global pada tahun 2030.


Sebagai negara dengan pengguna EV sekaligus produsen baterai EV terbesar di dunia, Tiongkok sebenarnya sudah memiliki skema daur ulang baterainya sendiri untuk mengatasi lonjakan pemanfaatan yang diharapkan. Mereka bahkan telah menerapkan sistem pelacakan yang akan melacak seluruh masa pakai baterai dari manufaktur hingga pembuangan.

0 Komentar


Tambah Komentar