https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/feedback+icon-02.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/ask+me+icon.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/logoHeader.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/human-logo.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/005d00ca-476c-4b4f-bda7-95618e0a9b4a.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/2b50b66f-04cb-4415-a1dc-908229946674.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/860cc73e-cb0f-4406-8d90-90fa435b2f80.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/130e4a9e-220e-4770-9191-65bd3007d142.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/d92eb65c-225a-4590-a6df-da6f1d312546.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/005d00ca-476c-4b4f-bda7-95618e0a9b4a.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/2b50b66f-04cb-4415-a1dc-908229946674.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/d92eb65c-225a-4590-a6df-da6f1d312546.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/005d00ca-476c-4b4f-bda7-95618e0a9b4a.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/2b50b66f-04cb-4415-a1dc-908229946674.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/860cc73e-cb0f-4406-8d90-90fa435b2f80.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/130e4a9e-220e-4770-9191-65bd3007d142.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/d92eb65c-225a-4590-a6df-da6f1d312546.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/005d00ca-476c-4b4f-bda7-95618e0a9b4a.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/2b50b66f-04cb-4415-a1dc-908229946674.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/860cc73e-cb0f-4406-8d90-90fa435b2f80.jpeg

Tidak Mau Dibanjiri Produk China, Turki Tetapkan Tarif Masuk 40 Persen Untuk Mobil China

12 June 2024

dilihat 82x

Mobilku.com - Turki dilaporkan akan segera memberlakukan tarif bea masuk tambahan sebesar 40% yang menyasar produk-produk mobil impor asal China. Hal ini dilakukan untuk melindungi industri otomotif lokal Turki dan demi menghindari memburuknya neraca perdagangan mereka dengan China.


Kebijakan Turki ini bisa dibilang mirip seperti kebijakan yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat (AS) baru-baru ini. Bahkan pemerintah AS yang dipimpin Presiden Joe Biden lebih 'galak', dengan menaikkan tarif bea masuk dari 25% ke 100% untuk mobil-mobil impor asal China.


Tarif bea masuk sebesar 40% per kendaraan ini akan berlaku mulai 7 Juli 2024. Kebijakan ini menargetkan mobil-mobil murah asal China dengan memberlakukan tarif minimum sebesar $ 7.000 atau sekitar Rp 114 juta. 


Kebijakan tarif bea 40% ini sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun lalu, dan hanya menyasar mobil mewah. Namun tahun ini kebijakan tersebut akan diperluas dengan menyasar mobil-mobil bermesin konvensional dan juga hybrid asal China. Tentunya hal ini menjadi pukulan telak bagi industri mobil China yang sedang melakukan ekspansi besar-besaran ke banyak negara.


Di sisi lain, Turki saat ini sedang bersemangat untuk membangun industri otomotif mereka. Proyek mobil listrik nasional adalah salah satu program unggulan yang digaungkan oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan. Pada akhir 2023, Turki telah memperkenalkan mobil listrik nasional pertama mereka yang diproduksi di dalam negeri dengan nama TOGG T10X.




0 Komentar


Tambah Komentar