https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/feedback+icon-02.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/ask+me+icon.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/logoHeader.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/human-logo.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/dceaf98b-513d-4c39-b14b-170e642f9430.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/9d7c2424-6127-4e65-bf7d-bcc4554b59ef.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/a80f4fbf-27de-44ca-9120-99c6f77728d9.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/b1b49909-ad30-4c9a-a6df-7f56691d394a.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/5d9a8e07-a21e-4e75-88f1-edfb3c9ec094.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/dceaf98b-513d-4c39-b14b-170e642f9430.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/9d7c2424-6127-4e65-bf7d-bcc4554b59ef.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/5d9a8e07-a21e-4e75-88f1-edfb3c9ec094.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/dceaf98b-513d-4c39-b14b-170e642f9430.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/9d7c2424-6127-4e65-bf7d-bcc4554b59ef.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/a80f4fbf-27de-44ca-9120-99c6f77728d9.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/b1b49909-ad30-4c9a-a6df-7f56691d394a.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/5d9a8e07-a21e-4e75-88f1-edfb3c9ec094.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/dceaf98b-513d-4c39-b14b-170e642f9430.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/9d7c2424-6127-4e65-bf7d-bcc4554b59ef.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/a80f4fbf-27de-44ca-9120-99c6f77728d9.jpg

Social Distancing Membuat Warga Jepang Ingin Memiliki Mobil Pribadi

25 June 2020

dilihat 127x

Mobilku.com - Wabah Covid-19 telah membuat orang untuk selalu menjaga jarak, bahkan pada saat bepergian banyak orang yang menghindari transportasi publik dan memilih untuk menggunakan transportasi pribadi. Di Jepang, seorang insinyur berusia 32 tahun bernama Ryota Kawamata tidak pernah membayangkan bahwa dirinya harus kembali menyetir ke tempat kerja. Pria yang sudah hampir satu dekade tidak pernah menyetir tersebut kini sedang mempertimbangkan untuk membeli mobil guna menghindari transportasi publik. 


Sampai saat ini beberapa tempat di Jepang seperti kantor dan restoran memang masih menerapkan social distancing. Namun jangan harap bisa mengoptimalkan pembatasan sosial pada transportasi umum seperti kereta ataupun bus. Hal inilah yang dikhawatirkan Ryota, karena menurutnya banyak tempat yang tidak bisa dituju tanpa menggunakan mobil. Bahkan Ryota sengaja mengikuti les mengemudi hanya untuk mengasah kemampuan mengemudinya. Di Jepang, orang seperti Ryota ini dikenal dengan “paper drivers,” artinya orang yang mempunya SIM tapi tetapi tidak memiliki kendaraan sendiri.


Pada masa pandemi ini Ryota merupakan salah satu calon pembeli mobil yang potensial, bahkan dapat memberikan sedikit kenaikan penjualan yang saat ini dibutuhkan oleh para dealer dan pabrikan otomotif. Memang tidak pernah ada statistik yang akurat mengenai jumlah orang seperti Ryota di Jepang, namun ada sekitar 45 juta orang memiliki SIM yang tidak pernah tercatat melakukan pelanggaran setidaknya selama lima tahun. Artinya kemungkinan besar orang tersebut hanya memiliki SIM saja tapi jarang atau bahkan tidak pernah membawa mobil sama sekali. Bahkan menurut pemilik salah satu sekolah mengemudi, dua pertiga dari murid yang terdaftar adalah orang yang sudah memiliki SIM dan hanya ingin mengasah kemampuan mengemudinya saja.


Coronavirus telah membuat banyak orang di Jepang terpaksa membawa kendaraan pribadinya. Bahkan, permintaan akan area parkir di Tokyo telah meningkat sebanyak lima kali lipat pada bulan April dibandingkan dengan bulan Februari. Pemerintah Jepang telah mengetahui angka peningkatan pengemudi tersebut, tetapi mereka tidak khawatir akan terjadinya kemacetan atau masalah lainnya. Karena menurut mereka, masih ada orang yang memilih bekerja dirumah tanpa harus pergi menggunakan mobil ke kantor. Namun, komposisi antara orang yang pergi dan tidak pergi masih terus dihitung selagi memperkirakan dampak buruk yang akan terjadi kedepannya.


Disisi lain ada juga warga Jepang yang memilih untuk menyewa mobil dibandingkan harus membeli. Menurut Keisuke Kai, ia masih nyaman untuk menggunakan mobil sewaan karena tidak harus memikirkan biaya parkir dan pemeliharaan. Menarik bukan? Memang dikala pandemi global ini selalu muncul dua buah sisi, baik itu merugikan maupun menguntungkan.

0 Komentar


Tambah Komentar