https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/feedback+icon-02.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/ask+me+icon.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/logoHeader.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/human-logo.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/47914ca3-167a-4b0b-bb81-fc4aea01a7be.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/294cc6e2-9dff-467a-8523-d632f7f53eaf.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/74038973-e100-4a22-9ea8-beb77cec4f48.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/8835f4f4-ece0-4999-ac9c-7ef4cbf6e478.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/4ebfaae6-f998-4314-8020-1657b9db1150.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/47914ca3-167a-4b0b-bb81-fc4aea01a7be.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/294cc6e2-9dff-467a-8523-d632f7f53eaf.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/4ebfaae6-f998-4314-8020-1657b9db1150.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/47914ca3-167a-4b0b-bb81-fc4aea01a7be.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/294cc6e2-9dff-467a-8523-d632f7f53eaf.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/74038973-e100-4a22-9ea8-beb77cec4f48.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/8835f4f4-ece0-4999-ac9c-7ef4cbf6e478.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/4ebfaae6-f998-4314-8020-1657b9db1150.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/47914ca3-167a-4b0b-bb81-fc4aea01a7be.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/294cc6e2-9dff-467a-8523-d632f7f53eaf.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/74038973-e100-4a22-9ea8-beb77cec4f48.jpeg

Rupiah Melemah Dan Bunga Tinggi Dianggap Jadi Faktor Besar Lemahnya Sektor Otomotif Indonesia

11 June 2024

dilihat 39x

Mobilku.com -  Tren penurunan daya beli konsumen di pasar Indonesia sepertinya jelas bukan isapan jempol. Hal tersebut tercermin dari penjualan mobil nasional yang belum terlalu menunjukan hasil positif.


Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, penjualan mobil di Indonesia kini berada dalam tren negatif sejak awal 2024 dan masih berlangsung hingga kini.


Per Mei 2024, penjualan wholesales (pabrik ke dealer) mobIl nasional turun 21% year on year (YoY) menjadi 334.969 unit. Sementara penjualan retail (dealer ke konsumen) mobil nasional hanya mencatatkan 14,4% yoy menjadi 361.698 unit.


Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menilai rendahnya permintaan konsumen menjadi akar masalah anjloknya penjualan mobil nasional. Akan tetapi, bukan tanpa alasan konsumen mengerem pembelian mobil baru mereka. 


Ketidakstabilan kondisi ekonomi Indonesia dan pelemahan kurs rupiah membuat inflasi naik, diyakini menjadi faktor utama yang menggerus daya beli masyarakat. Belum lagi, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) masih berada di level yang tinggi yaitu 6,25%, sehingga merembet ke suku bunga kredit kendaraan bermotor. Padahal, mayoritas pembeli mobil menggunakan skema pembiayaan kredit.


Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menyebut, penurunan daya beli masyarakat benar adanya, terutama di kelas menengah. Terbukti, meski pertumbuhan ekonomi Indonesia menyentuh 5,11% pada kuartal I-2024, tingkat konsumsi rumah tangga hanya berada di level 4,91% di periode yang sama. 


Ketika suku bunga acuan masih tinggi, harga beberapa mobil di Indonesia justru naik, terutama pada kuartal pertama lalu. "Konsumen dihadapkan pilihan sulit, karena laju kenaikan harga mobil tidak diimbangi oleh perbaikan daya beli masyarakat," kata Tauhid, Senin (10/6).


Sementara itu, Marketing Director PT Toyota Astra Motor Anton Jimmi Suwandy percaya jika kinerja pasar otomotif akan meningkat sampai akhir tahun nanti. Toyota pun telah menyiapkan berbagai inovasi model-model baru guna menggairahkan pasar.


Toyota masih menjadi merek mobil terlaris di Indonesia. Hingga Mei, penjualan retail Toyota tercatat sebanyak 116. 621 unit pada Januari-Mei 2024 atau turun 10,80% yoy, mengikuti tren pasar secara nasional. Setelah Toyota, ada Daihatsu yang membukukan penurunan penjualan retail 12,47% yoy menjadi 76.313 unit per Mei 2024.




0 Komentar


Tambah Komentar