https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/feedback+icon-02.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/ask+me+icon.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/logoHeader.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/5b2bd3c0-7079-412e-9ddb-33e4cff623b2.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/4fbbfcec-01dc-42c4-a0c4-c1d582f03967.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/458d8344-3dc0-454a-9418-8e490ea5c1b2.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/f4ee8755-7ee5-4fb6-a4db-34016ff26615.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/515e8c64-3e25-4663-8ee3-62b644bc5ad0.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/5b2bd3c0-7079-412e-9ddb-33e4cff623b2.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/4fbbfcec-01dc-42c4-a0c4-c1d582f03967.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/515e8c64-3e25-4663-8ee3-62b644bc5ad0.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/5b2bd3c0-7079-412e-9ddb-33e4cff623b2.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/4fbbfcec-01dc-42c4-a0c4-c1d582f03967.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/458d8344-3dc0-454a-9418-8e490ea5c1b2.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/f4ee8755-7ee5-4fb6-a4db-34016ff26615.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/515e8c64-3e25-4663-8ee3-62b644bc5ad0.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/5b2bd3c0-7079-412e-9ddb-33e4cff623b2.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/4fbbfcec-01dc-42c4-a0c4-c1d582f03967.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/458d8344-3dc0-454a-9418-8e490ea5c1b2.jpg

Pentingnya Mencari Solusi Untuk Daur Ulang Baterai Lithium-ion

30 January 2020

dilihat 268x

Mobilku.com - Akira Yoshino adalah ahli kimia asal Jepang yang memenangkan Penghargaan Nobel untuk kontribusinya dalam mengembangkan baterai lithium-ion yang biasa ditemukan dalam segala benda elektronik mulai dari ponsel hingga kendaraan listrik. Namun, Yoshino selalu mengingatkan bahwa ada masalah besar yang harus diperhatikan.


Demi memenuhi banyaknya peminat untuk baterai isi ulang, serta terbatasnya jumlah bahan baku yang dibutuhkan untuk memproduksi baterai, kita harus segera menemukan solusi untuk mendaur ulangnya. Mobil listrik telah menjadi sorotan dalam hal ini karena akan semakin banyak diadopsi oleh masyarakat.


Ketika mobil listrik sudah diadopsi secara masal, nasib jutaan baterai lithium-ion bekas yang memberi daya pada kendaraan tersebut akan menimbulkan masalah pada lingkungan. Tren mobil EV dapat diatribusikan oleh Tesla Model S yang mulai diluncurkan sejak tahun 2012.


Saat ini, para produsen mobil sedang berusaha untuk menunjukkan kepada publik bahwa mereka juga tidak ketinggalan tren dengan menghadirkan kendaraan listrik di setiap segmen, dari sedan, SUV, pickup hingga truk dan bus. Sebagian besar produsen akan memiliki armada kendaraan listrik yang akan dipasarkan dalam dua tahun ke depan.


Bisa dimaklumi kalau banyak yang masih belum terpikir masalah daur ulang baterai. Hal ini disebabkan oleh rendahnya persentase kendaraan listrik yang ada di dunia. Tetapi pada tahun 2030, ada potensial bagi peminat EV untuk meledak hingga 25 juta unit per tahunnya. Angka tersebut mencerminkan sekitar empat setengah juta metrik ton bahan baterai atau sekitar seperlima dari produksi aluminium per tahun secara global. Pada saat itu mungkin kita baru akan menyadarinya, dan bisa jadi sudah terlambat untuk menghentikannya. Teknologi daur ulang baterai yang ada saat ini masih belum memadai dan prosesnya cukup berbahaya dibandingkan baterai aki yang dipakai umum.

0 Komentar


Tambah Komentar