https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/feedback+icon-02.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/ask+me+icon.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/logoHeader.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/human-logo.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/ded3610d-2a33-4bcc-9212-7e7fb78269b2.JPG
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/d145da50-6f18-47da-81d9-2ec28cecd6c6.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/3a75ea79-9a90-43e1-a7c9-0d4bbd6848e8.JPG
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/cf938ec4-40fb-45a9-b9ed-9e651c5b690a.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/12e73551-1525-4d98-bd5e-edd17779883f.JPG
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/ded3610d-2a33-4bcc-9212-7e7fb78269b2.JPG
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/d145da50-6f18-47da-81d9-2ec28cecd6c6.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/12e73551-1525-4d98-bd5e-edd17779883f.JPG
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/ded3610d-2a33-4bcc-9212-7e7fb78269b2.JPG
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/d145da50-6f18-47da-81d9-2ec28cecd6c6.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/3a75ea79-9a90-43e1-a7c9-0d4bbd6848e8.JPG
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/cf938ec4-40fb-45a9-b9ed-9e651c5b690a.jpeg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/12e73551-1525-4d98-bd5e-edd17779883f.JPG
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/ded3610d-2a33-4bcc-9212-7e7fb78269b2.JPG
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/d145da50-6f18-47da-81d9-2ec28cecd6c6.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/3a75ea79-9a90-43e1-a7c9-0d4bbd6848e8.JPG

Pekerja Pabrik di India Lakukan Mogok Kerja Karena Takut Terinfeksi COVID-19

26 May 2021

dilihat 61x

Mobilku.com - Renault, Nissan, dan Hyundai dikabarkan akan melakukan penutupan pabrik sementara waktu di India karena meningkatnya keresahan di antara para pekerja terkait infeksi COVID-19.


Sejumlah pekerja telah melakukan protes dan merencanakan mogok kerja sampai tuntutan keselamatan serta kesehatan mereka dipenuhi. Merespon hal tersebut, Hyundai mengatakan bahwa mereka akan menghentikan operasional pabriknya di Tamil Nadu selama lima hari karena khawatir terjadinya penyebaran virus.


"Manajemen setuju untuk menutup pabrik setelah para pekerja menyatakan keprihatinan atas keselamatan setelah dua karyawan meninggal karena COVID," kata E. Muthukumar, presiden Serikat Karyawan Hyundai Motor India, kepada Reuters.


Aksi protes tersebut dilakukan agar banyak perusahaan mulai menyoroti gelombang besar infeksi COVID-19 yang menyerang India. Belum lagi para nakes yang kewalahan dan kekurangan vaksin juga membuat karyawan lebih takut untuk bekerja.


Tamil Nadu merupakan salah satu wilayah yang paling parah terkena dampak, dimana ada lebih dari 30.000 kasus per hari yang tercatat pada minggu lalu. Wilayah yang merupakan pusat otomotif terbesar di India tersebut sebenarnya sedang Lockdown hingga 31 Mei, tetapi beberapa pabrik, termasuk pabrik mobil, diizinkan untuk terus beroperasi. Mungkin inilah yang membuat banyak pegawai pabrik sangat ketakutan.


Ancaman pemogokan di pabrik Renault-Nissan muncul jelang sidang pengadilan atas tuduhan pelanggaran kebijakan kesehatan pabrik, dimana para pekerja menuntut pabrikan agar menangani masalah ini dengan lebih serius.


Dalam persidangan tersebut, seorang pengacara untuk para pekerja bahkan berargumen bahwa meskipun perusahaan telah mengurangi jumlah shift, namun jumlah produksi tidak dipotong dan jumlah pegawai yang masuk tetaplah sama sehingga menyebabkan banyak kerumunan di pabrik.


Pihak perusahaan mengatakan kepada pengadilan bahwa mereka telah mengurangi tenaga kerja menjadi sekitar 5.000 dari 8.000. Ia juga mengatakan telah memvaksinasi karyawan diatas 45 tahun dan bersedia untuk menyuntik mereka yang di bawah 45 jika vaksinnya sudah tersedia.


Dua hakim yang memimpin kasus tersebut mengatakan bahwa meskipun kesehatan pekerja adalah yang terpenting, jika industri turun tidak akan ada tempat bagi mereka untuk bekerja. 


Mereka juga mengatakan perusahaan tidak boleh memanfaatkan pengecualian yang diberikan oleh negara dan harus mengurangi produksi hanya untuk memenuhi pesanan ekspor saja. "Produksi seharusnya turun, pabrikan juga wajib meredakan perasaan para pekerja," kata pengadilan.

0 Komentar


Tambah Komentar