https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/feedback+icon-02.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/ask+me+icon.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/logoHeader.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/8ea5e780-8bc7-405c-bef6-0974c9138e0e.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/dbafd6dc-8016-4955-8878-0eda88bf6178.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/28473e49-08ac-47fa-ad2d-08b94bfffd6f.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/07d49530-d2d3-4159-90c8-f50af4c04839.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/d9fdf63a-4876-4e20-a246-c6b9e11d150f.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/8ea5e780-8bc7-405c-bef6-0974c9138e0e.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/dbafd6dc-8016-4955-8878-0eda88bf6178.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/d9fdf63a-4876-4e20-a246-c6b9e11d150f.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/8ea5e780-8bc7-405c-bef6-0974c9138e0e.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/dbafd6dc-8016-4955-8878-0eda88bf6178.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/28473e49-08ac-47fa-ad2d-08b94bfffd6f.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/07d49530-d2d3-4159-90c8-f50af4c04839.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/d9fdf63a-4876-4e20-a246-c6b9e11d150f.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/8ea5e780-8bc7-405c-bef6-0974c9138e0e.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/dbafd6dc-8016-4955-8878-0eda88bf6178.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/28473e49-08ac-47fa-ad2d-08b94bfffd6f.jpg

Dapatkah Kita Mempercayai Kendaraan Otonom Sepenuhnya?

16 November 2019

dilihat 46x

Mobilku.com - Menangani mobil self-driving yang dilengkapi dengan teknologi serba otomatis, pengendara manusia terkadang juga perlu mengoreksi alat setir untuk menjaga pengalaman berkendara agar tetap aman dan akhirnya sampai ke haluan yang diinginkan. Sampai sekarang, mayoritas dari studi tentang interaksi berkendara ini telah sebagian besar didasarkan pada non-cooperative game theory, yaitu dimana pengendara dengan arahan komputer terkadang tidak cocok dalam cara mengemudikan mobil.


Untuk lebih memahami dan memprediksi hasil dari dilema yang terjadi di alat kemudi, kita seharusnya menggunakan cooperative game theory untuk dijadikan model penerapan dalam permasalahan yang terjadi dalam interaksi antara pengendara dan arahan computer. Hal itu akan lebih cocok.


Menggunakan cooperative game theory para penulis menciptakan skenario mereka dalam sebuah konsep "Pareto Equilibrium", semacam keadaan seimbang di mana baik pengendara manusia maupun sistem kemudi otomatis pada mobil otonom tidak mengubah perilaku kemudi mereka secara sepihak.


Namun, dalam keadaan "Pareto", meskipun pengendara manusia dan sistem kemudi otomatis memiliki ide yang berbeda tentang di mana mobil harus pergi misalnya untuk menghindari pejalan kaki, baik itu dengan lurus terus atau membuat perubahan jalur, pengendara manusia harus setuju dengan keputusan yang dibuat dari sistem kemudi otomatis tersebut, sehingga menghasilkan keputusan yang sesuai.


Dalam rangka untuk mengetahui apakah dengan menjadi kooperatif akan membawa lebih banyak manfaat bagi pengalaman self-driving, kita juga seharusnya membandingkan dengan hasil yang berasal dari non-cooperative game theory.


Di masa depan, lebih banyak eksperimen yang dibutuhkan untuk memeriksa lebih lanjut bagaimana strategi kooperatif akan mempengaruhi interaksi pengendara manusia dengan sistem kemudi otomatis. Kami berharap bahwa apa yang mereka temukan dapat diproduksikan ke dalam teknologi kemudi otomatis, sehingga teknologi tersebut dapat memperhitungkan pengalaman pengendara manusia di kehidupan nyata untuk mencapai kontrol yang lebih baik secara bersama antara manusia dan mobil self-driving.

0 Komentar


Tambah Komentar