https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/feedback+icon-02.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/ask+me+icon.svg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/logoHeader.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/6e6d307e-3f42-4896-8f1a-ac612f79ae94.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/4026067f-ca7b-4083-8160-709e502bff57.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/844b3d3a-4248-4c1e-ae91-a316cc85a82b.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/13b61fe9-026e-4de3-b712-3917fc7b71fa.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/ce2adc93-7c38-49a5-9ebb-10bc815f3acd.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/6e6d307e-3f42-4896-8f1a-ac612f79ae94.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/4026067f-ca7b-4083-8160-709e502bff57.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/ce2adc93-7c38-49a5-9ebb-10bc815f3acd.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/6e6d307e-3f42-4896-8f1a-ac612f79ae94.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/4026067f-ca7b-4083-8160-709e502bff57.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/844b3d3a-4248-4c1e-ae91-a316cc85a82b.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/13b61fe9-026e-4de3-b712-3917fc7b71fa.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/ce2adc93-7c38-49a5-9ebb-10bc815f3acd.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/6e6d307e-3f42-4896-8f1a-ac612f79ae94.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/4026067f-ca7b-4083-8160-709e502bff57.jpg
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/844b3d3a-4248-4c1e-ae91-a316cc85a82b.jpg

Andy Palmer : Bangun Pabrik Baterai Atau Industri Otomotif Inggris Tamat

22 January 2021

dilihat 43x

Mobilku.com - Produsen mobil Inggris sekarang bisa sedikit bernafas lega, ketika akhirnya Inggris dan Uni Eropa berhasil mencapai kesepakatan perdagangan Brexit. Jika saja kesepakatan tersebut batal, tentu itu akan menjadi bencana besar dan memaksa setiap pabrikan mobil asal Inggris harus membayar pajak yang lebih tinggi untuk mengimpor suku cadang dari berbagai negara di Eropa.


Jika dilihat dari sisi lain, Brexit nyatanya memiliki beberapa keuntungan yang cukup aneh dan mengejutkan, dimana setiap pengemudi asal Inggris yang tertangkap kamera pengukur kecepatan di Eropa tidak lagi perlu membayar denda. Hal tersebut sontak menjadi sebuah perayaan kecil bagi beberapa orang, khususnya yang sering bepergian ke Uni Eropa.


Namun dibalik perayaan kecil tersebut, mantan bos Aston Martin Dr. Andy Palmer, memiliki kekhawatiran terhadap larangan penjualan mobil pembakaran baru pada tahun 2030. Palmer menilai, hal tersebut akan membawa konsekuensi besar yang harus ditanggung oleh Inggris di masa mendatang.


Sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan Inggris dan Uni Eropa, "rules of origin" mengatur setiap baterai yang digunakan untuk kendaraan listrik nantinya hanya dapat menggunakan 50 persen komponen yang bersumber dari luar Uni Eropa. Ini artinya jika Inggris tidak memiliki pabrik baterai sendiri, pabrikan mobil Inggris harus kembali mengekspor dengan tarif yang cukup besar dan berujung dengan peningkatan biaya kendaraan saat diekspor. Untuk mencegah hal ini, Palmer telah mengirimkan surat terbuka kepada Perdana Menteri Boris Johnson serta Menteri Luar Negeri untuk Strategi Bisnis Energi dan Industri, Kwasi Kwarteng, mendesak agar Inggris mau membangun pabrik baterai sendiri untuk menjaga perusahaan otomotif dalam negeri bisa bertahan.


Dalam suratnya, Palmer juga menekankan bahwa tanpa baterai yang dibuat di Inggris, industri otomotif dalam negeri berisiko tertinggal dan diambil alih oleh China, Jepang, Amerika, dan Uni Eropa. "Naluri bisnis menentukan bahwa industri otomotif akan bergerak ke tempat baterai berada, dan kami menghadapi perlombaan ketat melawan waktu. Meninggalkan Uni Eropa memberi kami peluang untuk bersaing di industri masa depan. Namun seiring berjalannya waktu, Prancis, Jerman dan Uni Eropa yang lebih luas mulai menunjukkan niat mereka untuk melakukan investasi besar-besaran di pabrik yang memproduksi baterai dan komponen kendaraan listrik," tulis Palmer.


Diluar keputusan pemerintah, sebuah perusahaan startup bernama BritishVolt juga tengah membangun pabrik gigafactory di Blyth, Northumberland, melalui kerjasamanya dengan Siemens dan akan mulai beroperasi penuh pada tahun 2023. Dalam suratnya Palmer juga menegaskan bahwa dirinya berharap jika Inggris bisa memiliki lebih banyak gigafactory dalam lima tahun kedepan. Inggris kini sedang berpacu dengan waktu untuk berinovasi. Jika pemerintah tidak bergerak cepat, maka industri otomotif di Inggris kemungkinan akan mengalami ketertinggalan.

0 Komentar


Tambah Komentar