https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/logoHeader.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/assets/human-logo.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/40f58944-4af9-4852-8b6d-84155d4ad786.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/65aeae94-9b12-4247-9e67-1d825a0d3211.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/40f58944-4af9-4852-8b6d-84155d4ad786.png
https://mobilku.s3.ap-southeast-3.amazonaws.com/news/1000/65aeae94-9b12-4247-9e67-1d825a0d3211.png

Revolusi Baterai EV Melesat, Infrastruktur Pengisian Daya Menghadang

04 January 2026

dilihat 10x

Industri kendaraan listrik (EV) global tengah melaju kencang, didorong oleh inovasi masif di sektor baterai. Generasi terbaru baterai EV tidak hanya menjanjikan jangkauan lebih jauh, tetapi juga waktu pengisian yang lebih singkat dan durabilitas yang meningkat signifikan. Salah satu terobosan paling dinantikan adalah baterai solid-state, yang digadang mampu menawarkan kepadatan energi dua kali lipat dibanding lithium-ion saat ini, dengan potensi pengisian daya 0-80% dalam waktu kurang dari 15 menit. Perusahaan seperti QuantumScape dan StoreDot telah menunjukkan prototipe yang menjanjikan, dengan target produksi massal yang diharapkan mulai terlihat pada akhir dekade ini, meskipun tantangan biaya dan skalabilitas masih ada.

Tren lain adalah dominasi baterai LFP (Lithium Ferro Phosphate) yang kian meningkat, terutama pada segmen EV menengah ke bawah. Dengan biaya produksi yang lebih efisien, siklus hidup yang lebih panjang, dan keamanan termal yang lebih baik dibandingkan NCM (Nickel Cobalt Manganese), LFP telah menjadi pilihan strategis bagi produsen seperti Tesla, BYD, dan CATL. Perkembangan ini turut menekan harga paket baterai per kWh secara drastis, dari sekitar $1000 pada tahun 2010 menjadi di bawah $150 saat ini, membuat EV lebih terjangkau bagi konsumen.

Namun, laju inovasi baterai ini dihadapkan pada tantangan infrastruktur pengisian daya yang tak kalah besar. Ketersediaan stasiun pengisian daya cepat (DC fast charger) masih belum merata, terutama di luar kota-kota besar, menciptakan "kecemasan jangkauan" bagi pengguna. Masalah standardisasi konektor, seperti transisi masif ke NACS di Amerika Utara, juga menciptakan ketidakpastian dan membutuhkan adaptasi infrastruktur. Beban pada jaringan listrik (grid) akibat permintaan pengisian daya yang masif juga menjadi perhatian serius, menuntut investasi besar untuk peningkatan kapasitas dan stabilitas, serta pengembangan teknologi smart grid.

Kesenjangan antara kemajuan teknologi baterai dan lambatnya pembangunan infrastruktur pengisian daya bisa menjadi hambatan utama adopsi EV secara luas. Untuk memastikan ekosistem EV berkembang optimal, perlu ada kolaborasi erat antara pemerintah, produsen kendaraan, dan penyedia energi untuk mempercepat pembangunan stasiun pengisian yang memadai, andal, dan mudah diakses, seiring dengan evolusi teknologi baterai yang kian canggih.

Sumber:

https://insideevs.com/

https://otomotif.kompas.com/

https://www.bloomberg.com/technology

0 Komentar


Tambah Komentar